Liverpool VS Manchester City : Drama VAR Diujung Pertandingan

komunitasbola.com – Terkadang, asisten wasit video (VAR) berada di posisi yang mustahil. Ia terjebak di antara apa yang terasa benar menurut semangat permainan dan apa yang benar menurut hukum sepak bola.

Situasi seperti inilah yang terjadi dalam laga dramatis Liga Premier antara Liverpool dan Manchester City di Anfield. Sebuah momen yang memicu perdebatan panjang di kalangan penggemar, pengamat, hingga komunitas bola global.

Baca juga : PSG Hancurkan Marseille 5-0 di Le Classique: Kembali ke Puncak dengan Pesta Gol

Gol Ketiga City yang Membuat Stadion Terdiam

Manchester City sempat mengira mereka telah mencetak gol ketiga yang akan memastikan kemenangan dramatis atas Liverpool. Bola menggelinding masuk ke gawang kosong, dan para pemain City mulai merayakan.

Namun, euforia itu tak berlangsung lama. VAR turun tangan dan membatalkan gol tersebut karena adanya pelanggaran yang terjadi sesaat sebelum bola melewati garis gawang.

Bagi banyak penonton, keputusan ini terasa kejam. Namun secara hukum, VAR hampir tidak punya pilihan lain.

Pelanggaran yang Tak Bisa Diabaikan

Pelanggaran tersebut terjadi ketika Erling Haaland mengejar bola dan jelas unggul dalam duel lari melawan Dominik Szoboszlai. Striker City itu telah melewati lawannya sekitar 25 yard dari gawang dan tampak hampir pasti memenangkan perlombaan.

Namun, Haaland ditarik dari belakang. Wasit Craig Pawson mengidentifikasi pelanggaran itu dengan jelas, tetapi memilih memberikan keuntungan karena bola masih mengarah ke gawang.

Masalahnya, pelanggaran tersebut secara langsung memengaruhi proses terjadinya gol. Dalam aturan permainan, jika sebuah gol tercipta dari situasi yang difasilitasi oleh pelanggaran, maka gol tersebut harus dibatalkan. Sesederhana itu.

Rangkaian Kejadian yang Sangat Tidak Biasa

Situasi ini semakin unik karena terjadi di detik-detik akhir pertandingan. Alisson Becker maju ke depan untuk membantu Liverpool dalam situasi bola mati, meninggalkan gawang kosong.

Rayan Cherki kemudian menendang bola dari dalam area setengah lapangan sendiri menuju gawang yang tak terjaga. Dengan Szoboszlai yang masih sempat mengejar, pemain Liverpool itu berpeluang melakukan tekel terakhir untuk menyapu bola dari garis gawang.

Namun, karena pelanggaran sebelumnya, seluruh rangkaian kejadian tersebut dianggap tidak sah.

VAR: Dibenci, Tapi Diperlukan

Para penggemar mungkin membencinya. Para pengamat bisa jadi tidak menyukainya. Sepak bola pun sering kali mencemoohnya. Namun, dalam kasus ini, VAR menjalankan fungsinya sesuai aturan.

Keputusan ini menegaskan satu hal penting: VAR bukan alat untuk menjaga emosi penonton, melainkan untuk menegakkan hukum permainan. Dan meskipun terasa pahit, keputusan tersebut sulit dibantah secara regulasi sebuah kenyataan yang harus diterima oleh seluruh komunitas bola.