Mikel Arteta dan Taktik ‘Aneh’ yang Mengantar Arsenal Juara Liga Inggris Setelah 22 Tahun

KOMUNITASBOLA – Penantian 22 tahun Arsenal berakhir sudah. The Gunners resmi menjadi juara Premier League 2025/2026 setelah Manchester City ditahan imbang 1-1 oleh Bournemouth pada 20 Mei 2026. Di balik gelar ke-14 dalam sejarah klub ini, ada tangan dingin Mikel Arteta yang menerapkan berbagai taktik ‘aneh’, nyeleneh, namun terbukti jitu. Dari “scrambled legs” hingga revolusi bola mati, berikut analisis lengkap strategi yang mengubah wajah Arsenal modern dari KOMUNITASBOLA.

Baca Juga : Xabi Alonso dan Taktik yang Bisa Mengubah Wajah Chelsea

Mengapa Taktik Arteta Disebut ‘Aneh’?

Sejak menukangi Arsenal pada Desember 2019, Mikel Arteta kerap mendapat sorotan karena metode kepelatihannya yang tidak biasa. Mulai dari menyewa pencopet profesional untuk melatih kewaspadaan pemain, memutar lagu You’ll Never Walk Alone sebelum melawan Liverpool, hingga memelihara pohon zaitun berusia 150 tahun di kantornya sebagai simbol ketenangan.

Namun, yang paling menarik perhatian adalah pendekatan taktisnya yang dinilai nyeleneh oleh banyak pengamat. Arteta tidak segan menciptakan istilah-istilah unik seperti “scrambled legs”, “magnet man”, “space hopper”, hingga “Bak, Sak, and crack” untuk menggambarkan pergerakan pemainnya di lapangan.

Para kritikus menyebut Arsenal sebagai “set-piece FC” karena terlalu mengandalkan gol dari situasi bola mati. Namun Arteta tidak peduli. Ia justru membalas dengan tegas: “Saya kesal karena kami tidak mencetak lebih banyak gol dari bola mati!”.

Taktik ‘Aneh’ Utama: Fleksibilitas Formasi dan Pergerakan Cair

Arsenal kelihatannya bermain dengan formasi 4-2-3-1. Namun di atas kertas, itu hanyalah formalitas. Sepanjang musim 2025/2026, Arsenal di bawah Arteta mampu bertransformasi menjadi setidaknya lima formasi berbeda: 4-3-3, 4-5-1, 3-2-4-1, hingga 4-4-2, tergantung lawan yang dihadapi.

Meski sering mengubah struktur, Arsenal tetap mempertahankan prinsip dasar mereka. Pola segitiga di kedua sisi lapangan yang melibatkan gelandang bertahan, gelandang serang, dan winger menjadi ciri khas. Tim juga banyak bertumpu di sisi kanan karena keberadaan Bukayo Saka sebagai pemain paling berbahaya.

Namun, Arteta tidak membatasi pergerakan pemainnya. Setiap pemain diberi kebebasan untuk berpindah posisi dan menciptakan ruang. Pendekatan cair ini membuat Arsenal menjadi tim yang sangat sulit ditebak. Mereka bisa bermain sabar saat membangun serangan, tetapi juga mampu menyerang cepat ketika menemukan celah.

Pendekatan unik ini akhirnya membuahkan hasil. Arsenal berhasil memperbaiki kelemahan mereka saat menghadapi tim-tim besar seperti Manchester City, yang dalam dua musim sebelumnya selalu menggagalkan ambisi juara mereka.

Declan Rice: Mesin di Balik Fleksibilitas Lini Tengah

Salah satu kunci keberhasilan taktik ‘aneh’ Arteta adalah hadirnya Declan Rice. Gelandang timnas Inggris itu tampil luar biasa sepanjang musim dan menjadi motor permainan Arsenal.

Rice bukan hanya kuat dalam duel dan bertahan, tetapi juga sangat memahami detail taktik yang diterapkan Arteta. Kemampuannya membaca permainan membuat Arsenal mampu mendominasi lini tengah dalam banyak pertandingan besar.

Kedatangan Martin Zubimendi pada musim panas lalu juga menjadi faktor penting. Rotasi posisi antara Rice dan Zubimendi membantu Arsenal keluar dari tekanan lawan dan mengalirkan bola lebih efektif melewati lini tengah.

Revolusi Bola Mati ala Nicolas Jover

Taktik ‘aneh’ lainnya yang menjadi senjata pamungkas Arsenal adalah revolusi bola mati di bawah asisten pelatih Nicolas Jover. Arteta merekrut Jover secara khusus untuk mengubah corner kick dan tendangan bebas menjadi “mathematical certainties”, atau kepastian matematis.

Hasilnya? Arsenal mencetak rekor liga dengan 18 gol dari corner kick dalam satu musim Premier League. Secara total, The Gunners mencatatkan 24 gol dari situasi bola mati, memecahkan rekor juara bertahan sebelumnya yang dipegang Manchester United.

Arteta mendekati setiap skenario bola mati seperti drama yang tersusun rapi. Umpan-umpan silang Declan Rice atau Bukayo Saka dieksekusi dengan presisi klinis, menggunakan umpan-umpan silang dan pemblokir untuk mengganggu bek lawan dan kiper, dibalut dengan sentuhan “dark arts” yang halus namun mematikan.

Gol kemenangan dramatis Kai Havertz dari sudut tendangan pojok Bukayo Saka saat melawan Burnley di pekan ke-37 menjadi contoh sempurna betapa efektifnya senjata ini.

Istilah ‘Aneh’ yang Jadi Rahasia Sukses

Selama musim 2025/2026, Arteta memperkenalkan berbagai istilah taktis unik yang menjadi rahasia di balik pergerakan pemainnya di lapangan:

  • “Scrambled legs” – Kemampuan pemain untuk melepaskan tendangan dalam posisi tidak stabil, seperti yang dilakukan Kai Havertz.
  • “Magnet man” – Pergerakan tanpa bola dari pemain untuk menarik bek lawan keluar dari posisi.
  • “Space hopper” – Kemampuan pemain melompat ke ruang kosong untuk menerima umpan.
  • “Force field” – Zona tekanan kolektif yang diterapkan tim saat kehilangan bola.

3 Alasan Arsenal Bisa Juara: Bukan Sekadar Keberuntungan

Pencapaian Arsenal menjadi juara bukan sekadar keberuntungan karena Manchester City terpeleset. Berikut tiga alasan fundamental mengapa The Gunners layak berada di puncak:

  1. Pertahanan terbaik liga – Arsenal hanya kebobolan 26 gol dalam 37 pertandingan. Mereka juga mencatatkan 19 clean sheet, dengan David Raya meraih Golden Glove ketiga beruntun.
  2. Mentalitas juara setelah tiga kali runner-up – Kegagalan di tiga musim sebelumnya (2022/23, 2023/24, 2024/25) justru membangun ketahanan mental yang kokoh.
  3. Kolektivitas tanpa kasta – Arteta menghapus sistem kasta di ruang ganti agar semua pemain bersaing secara sehat memperebutkan posisi utama.

Kini, Tantangan Berikutnya: Final Liga Champions

Setelah memastikan gelar Premier League, fokus Arsenal kini tertuju pada final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain di Budapest pada 30 Mei 2026. Kemenangan di sana akan melengkapi musim sempurna The Gunners dengan gelar ganda.

Jika berhasil mengalahkan PSG, Arsenal akan mencatatkan sejarah sebagai tim “Invincibles” Eropa, karena mereka belum terkalahkan di kompetisi tersebut sepanjang musim ini.

FAQ

Mengapa taktik Mikel Arteta dianggap ‘aneh’?
Arteta menggunakan berbagai metode unik seperti menyewa pencopet profesional, memutar lagu lawan di sesi latihan, hingga menciptakan istilah-istilah taktis seperti “scrambled legs” dan “magnet man” yang tidak biasa digunakan pelatih lain.

Apa kunci utama Arsenal bisa juara setelah 22 tahun?
Kombinasi pertahanan terbaik liga (hanya kebobolan 26 gol), efektivitas luar biasa dari bola mati (24 gol dari situasi dead-ball), dan mentalitas juara yang terbentuk setelah tiga kali finis sebagai runner-up.

Siapa aktor di balik keberhasilan bola mati Arsenal?
Nicolas Jover, asisten pelatih khusus yang direkrut Arteta untuk menangani situasi bola mati. Ia berhasil mengubah corner kick dan tendangan bebas menjadi senjata paling mematikan The Gunners.

Kapan Arsenal akan bermain di final Liga Champions?
Final Liga Champions 2026 akan digelar pada 30 Mei 2026 di Puskas Arena, Budapest, Hongaria. Arsenal akan menghadapi Paris Saint-Germain.

Kesimpulan

Keberhasilan Arsenal memutus puasa gelar Premier League selama 22 tahun bukanlah hasil dari sekadar keberuntungan. Di balik trofi yang diangkat Mikel Arteta, tersimpan kerja keras, detail taktis yang rumit, dan keberanian untuk tampil beda. “Scrambled legs”, “magnet man”, hingga revolusi bola mati ala Nicolas Jover menjadi senjata rahasia yang mengubah Arsenal menjadi juara. Meski sempat dianggap aneh dan nyeleneh, Arteta mampu membungkam semua kritik. Kini, satu tantangan besar masih menanti: final Liga Champions melawan PSG. Jika berhasil, musim 2025/2026 akan tercatat sebagai salah satu yang terhebat dalam sejarah panjang Arsenal.

Ikuti terus update perjalanan Arsenal menuju final Liga Champions hanya di KOMUNITASBOLA.