komunitasbola – Pelatih Bosnia-Herzegovina, Sergei Barbarez, menegaskan bahwa dirinya tidak merasa perlu meminta maaf kepada pelatih Brøndby asal Wales, Steve Cooper, setelah melontarkan komentar kontroversial menjelang pertandingan play-off Piala Dunia di Cardiff.
Pernyataan Barbarez sebelumnya memicu perhatian luas di kalangan media dan komunitas bola, terutama karena menyangkut keputusan terkait pemain muda Bosnia.
Baca juga : Prediksi Timnas Indonesia vs Saint Kitts dan Nevis: Garuda Siap Gilas Lawan di FIFA Series 2026

Tuduhan Terhadap Steve Cooper
Barbarez sempat menuduh Cooper telah mencoret gelandang Bosnia, Benjamin Tahirovic, dari tim Brøndby demi kepentingan pertandingan kualifikasi melawan Wales.
Namun, tuduhan tersebut langsung dibantah oleh pihak klub. Mereka menegaskan bahwa keputusan terkait Tahirovic tidak ada kaitannya dengan agenda internasional.
Di tengah polemik ini, Tahirovic sendiri dikabarkan telah menghubungi Cooper untuk menyampaikan permintaan maaf secara pribadi.
Barbarez: Fokus Saya Melindungi Pemain
Ketika ditanya apakah ia juga akan meminta maaf, Barbarez menjawab dengan tegas:
“Saya rasa saya tidak perlu meminta maaf atas apa pun.”
Ia kemudian menjelaskan bahwa komentarnya bukan tanpa alasan. Menurutnya, hal tersebut justru bagian dari strategi untuk mengalihkan tekanan dari pemainnya.
Barbarez mengungkapkan bahwa ia sengaja menciptakan “teka-teki” bagi media agar sorotan tidak sepenuhnya tertuju pada Tahirovic.
Strategi Mengalihkan Tekanan
Barbarez menekankan bahwa prioritas utamanya adalah melindungi pemain, terutama yang masih muda seperti Tahirovic.
Ia mengatakan:
- Ia sudah mengenal Tahirovic selama dua tahun
- Percaya penuh pada kualitas dan potensinya
- Ingin pemain tetap fokus tanpa tekanan berlebihan
Langkah ini dinilai cukup berani dan tidak biasa, sehingga memancing diskusi hangat di komunitas bola internasional.
Fokus ke Pertandingan Penentuan
Menutup pernyataannya, Barbarez mengingatkan bahwa perhatian utama seharusnya tertuju pada pertandingan yang akan datang.
Menurutnya, laga play-off tersebut jauh lebih penting dibanding polemik yang berkembang di luar lapangan.









